Harga Rp. 42.000 (Bebas Pajak) DPP Nilai Lain Rp. 0 DPP PPh Rp. 42.000 PPN 12% Rp. 0
Negosiasi harga dapat dilakukan di Keranjang Belanja.| SKU | : | DEPUS-00666 |
| Tag PPN | : | Buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat |
| Status Produk | : | Baru |
| Kategori | : | Buku Pendidikan |
| Merk | : | CV DETAK PUSTAKA |
| Buatan Indonesia | : | Ya |
| UMKM | : | Ya |
| Panjang | : | 14 cm |
| Lebar | : | 1 cm |
| Tinggi | : | 20 cm |
| Berat | : | 170 gram |
Di dunia yang tengah berubah dengan kecepatan cahaya, kehadiran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas yang telah merangsek masuk ke ruang kelas, perpustakaan, hingga meja penelitian kita. Bak kilatan meteor di cakrawala, AI membawa potensi disrupsi yang memaksa kita untuk memilih: beradaptasi dengan bijak atau menjadi “dinosaurus” yang punah dimakan zaman.
Buku “Navigasi Etis di Era AI: Panduan Pendidikan dan Literasi Digital” hadir sebagai kompas esensial untuk mengarungi samudra teknologi yang kian kompleks tersebut. Bukan untuk menyebarkan ketakutan, karya ini justru mengajak para pendidik, mahasiswa, dan praktisi pendidikan untuk merangkul inovasi melalui kacamata kecerdasan etis.
Melalui pembahasan yang komprehensif, buku ini membedah respons ideal institusi pendidikan, penguatan literasi digital yang kritis, hingga penerapan strategi pedagogi modern seperti flipped learning. Penulis melampaui sekadar teori dengan menyajikan panduan praktis, termasuk instrumen “Kuadran Penggunaan AI” untuk menjaga marwah integritas akademik di tengah kemudahan algoritma.
Pesan sentral dalam buku ini sangat jernih: teknologi hanyalah alat. Sehebat apa pun AI memproses data, ia tidak akan pernah memiliki hati nurani, empati, dan integritas—tiga pilar yang tetap menjadi domain eksklusif manusia.
Buku ini adalah panduan bagi siapa saja yang ingin terus berinovasi tanpa mengorbankan martabat etika, membuktikan bahwa tantangan terbesar kita bukanlah mengalahkan mesin, melainkan tetap menjadi manusia yang utuh di era digital.