Harga Rp. 250.000 (Harga Termasuk Pajak) DPP Nilai Lain Rp. 206.456 DPP PPh Rp. 225.225 PPN 12% Rp. 24.775
Negosiasi harga dapat dilakukan di Keranjang Belanja.| SKU | : | STEMA-00001 |
| Tag PPN | : | Dikenakan PPN |
| DPP Nilai Lain | : | Rp. 206.456 |
| PPN | : | Rp. 24.775 |
| Status Produk | : | baru |
| Kategori | : | Buku Pendidikan |
| Merk | : | Indra Charismiadji |
| Buatan Indonesia | : | Ya |
| UMKM | : | Ya |
| Panjang | : | 26 cm |
| Lebar | : | 19 cm |
| Tinggi | : | 5 cm |
| Berat | : | 1 kg |
Darurat Pendidikan Indonesia: Anatomi Kegagalan Sistemik dan Agenda Restorasi adalah sebuah karya kritis yang lahir dari kegelisahan mendalam terhadap kondisi pendidikan nasional Indonesia yang dinilai sedang berada dalam fase darurat. Buku ini tidak menawarkan optimisme kosong, melainkan mengajak pembaca menatap “cermin retak” pendidikan Indonesia: angka kelulusan tinggi, partisipasi sekolah meningkat, dan laporan administratif yang tampak indah, tetapi tidak sejalan dengan rendahnya mutu literasi, numerasi, nalar kritis, dan daya saing peserta didik. Melalui data seperti PISA, learning poverty, LAYS, dan Human Capital Index, buku ini membongkar paradoks besar: anak-anak Indonesia semakin lama bersekolah, tetapi tidak berarti semakin kuat kemampuan berpikirnya.
Buku ini kemudian mengurai akar persoalan secara sistemik, mulai dari reduksi pendidikan menjadi sekadar persekolahan, komodifikasi pendidikan sebagai barang ekonomi, krisis guru, lemahnya tata kelola, hingga pelanggaran terhadap mandat konstitusi untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Penulis menegaskan bahwa persoalan pendidikan Indonesia bukan sekadar kurangnya gedung, kurikulum, atau anggaran, melainkan kegagalan dalam membangun ekosistem pendidikan yang utuh: keluarga, sekolah, dan pergerakan pemuda (masyarakat) sebagai tiga sentra pendidikan yang saling menopang. Dalam analisisnya, pendidikan telah terlalu lama dikendalikan oleh logika administratif, proyek birokrasi, dan politik anggaran, sementara inti pendidikan—pembentukan manusia merdeka, bernalar, berkarakter, dan mampu mencipta—justru terpinggirkan.
Sebagai jalan keluar, buku ini menawarkan agenda restorasi pendidikan nasional yang berpijak pada mandat konstitusi, penguatan guru, reformasi anggaran, integrasi sistem pendidikan, serta pergeseran paradigma dari sekadar “mengajar” menuju “mencipta.” Pendidikan Indonesia, menurut buku ini, harus bergerak dari budaya hafalan menuju revolusi nalar; dari sekolah sebagai pabrik ijazah menuju taman pembebasan manusia; dari sistem yang mengejar laporan menuju sistem yang benar-benar memampukan anak hidup, bekerja, berpikir, dan berinovasi di era Masyarakat 5.0. Pada akhirnya, buku ini adalah manifesto intelektual sekaligus panggilan moral: apakah Indonesia 2045 akan menjadi fajar kejayaan, atau senja kelabu bagi bangsa yang gagal mendidik generasinya sendiri.