SIPLah GRAMEDIA Logo

Buku Mendidik Manusia Merdeka: Humanisme Religius dalam Pemikiran Pendidikan Tan Malaka

CV DETAK PUSTAKA

Harga Rp. 46.000 (Bebas Pajak) DPP Nilai Lain Rp. 0 DPP PPh Rp. 46.000 PPN 12% Rp. 0

Negosiasi harga dapat dilakukan di Keranjang Belanja.

Stok tersedia 500
Jumlah yang ingin dibeli (Min. Pesan : 10)

Informasi Produk
SKU : DEPUS-00792
Tag PPN : Buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama dengan harga yang relatif terjangkau masyarakat
Status Produk : Baru
Kategori : Buku Pendidikan
Merk : CV DETAK PUSTAKA
Buatan Indonesia : Ya
UMKM : Ya
Panjang : 14 cm
Lebar : 2 cm
Tinggi : 21 cm
Berat : 200 gram
Deskripsi Produk

Anak surau yang ditembak mati oleh bangsanya sendiri. Pemikir pendidikan yang mendahului Paulo Freire setengah abad. Tokoh yang selama puluhan tahun namanya dilarang disebut.

Apa yang Anda pikirkan jika tahu kalimat ini ditulis oleh “musuh agama” versi Orde Baru?

“Sekolah yang baik ialah sekolah yang mendidik anak-anak menjadi orang yang baik budinya dan baik tingkah lakunya. Bukan sekolah yang cuma memberikan pengetahuan kosong belaka, tetapi sekolah yang menanamkan akhlak dan semangat di dalam jiwa muridnya.”

Penulisnya bernama Tan Malaka. Selama puluhan tahun ia disebut komunis, subversif, ancaman. Tapi ada wajah lain yang luput dari sejarah—anak surau Minangkabau yang setiap subuh berjalan menuju masjid kampungnya di Pandam Gadang. Lelaki yang pernah berdiri di Moskow, di hadapan Kongres Komintern, dan membela Islam sebagai api pembebasan, bukan candu.

Buku ini ditulis untuk memperlihatkan wajah itu.

Setengah abad sebelum Paulo Freire menggemparkan dunia dengan Pedagogy of the Oppressed, Tan Malaka sudah mempraktikkannya di Semarang. Empat dekade sebelum teologi pembebasan lahir di Amerika Latin, ia sudah merumuskannya dari sudut pandang seorang Muslim. Dua puluh tahun sebelum proklamasi, ia sudah menulis seperti apa republik yang akan kita huni.

Tapi siapa yang mengingatnya?

Saidina Ali mengajak Anda menelusuri empat pilar pemikiran Tan Malaka yang selama ini tersembunyi di balik label politik yang menempel padanya: martabat akal, pembebasan struktural, penghargaan terhadap agama rakyat, dan solidaritas kerakyatan. Sang anak nagari dipertemukan dalam dialog lintas zaman dengan Freire, Gramsci, dan Ali Shariati—membuktikan satu hal yang mengusik: gagasan dari Suliki memiliki resonansi yang menggetarkan tradisi intelektual dunia, dan kita justru sibuk meminjam dari luar.

Buku ini bukan untuk Anda yang mencari kepastian. Buku ini untuk Anda yang masih berani bertanya:

Untuk siapa pendidikan ini?

Apakah agama yang kita ajarkan membuka akal, atau menutupnya?

Apakah kita sedang membentuk manusia yang merdeka—atau manusia yang terampil tapi tidak bebas?

Untuk para guru yang setiap pagi berdiri di depan kelas dengan keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah sesuatu, meskipun dunia tidak selalu membenarkan keyakinan itu. Untuk para pelajar yang menolak diam. Untuk siapa pun yang masih ingin tahu apa artinya benar-benar merdeka.

“Terbentur, terbentur, terbentur, dan terbentuk.”

— Tan Malaka

Mantra hidupnya. Mungkin juga mantra kerja yang sedang Anda cari.

Baca ulang Tan Malaka. Bukan untuk membela. Bukan untuk menyerang. Untuk akhirnya, dengan jujur, mengenalnya.


Ulasan Produk
0.0 / 5
0 Ulasan
0
0
0
0
0
Penyedia
Penyedia
CV DETAK PUSTAKA
Alamat
Jl Raya Sugio-Lamongan, Kedungbanjar, Sugio, Lamongan, Jawa Timur (62256) , Sugio , KAB. LAMONGAN , JAWA TIMUR
Rating